Skip to content →

Awas ya, Jangan Tertipu Sama Psikologi Abal-Abal

In short : Psikologi abal-abal harus kamu waspadai. Jangan begitu saja percaya terhadap apapun yang mengatasnamakan psikologi tanpa kamu cek dulu kebenarannya.

Sebelum saya mulai menjelaskan apa yang saya maksud dengan psikologi abal-abal, saya ingin memaparkan salah satu hasil penelitian psikologi.

Menurut survey psikologi 73% orang yang suka menonton film humor memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada orang tidak memiliki selera menonton film humor.

Apakah kamu percaya dengan suvey tersebut ? Berikut paparannya.

Tentang  Psikologi Abal-Abal

Di jaman serba canggih, kamu bisa dengan mudah mencari informasi apapun lewat internet. Bahkan, tanpa mencaripun terkadang kamu sudah disuguhi informasi yang kamu inginkan.

Misalkan saja, kamu tidak perlu mencari informasi tentang manfaat minum air putih dipagi hari tetapi seringkali saat kamu buka Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya kamu sudah diberi informasi seperti itu.

Ini memang sesuatu yang baik. Tetapi, apakah informasi tersebut benar ?

Nyatanya, tidak semua informasi diinternet adalah benar. Banyak juga informasi psikologi yang sifatnya menyesatkan.

Contohnya apa ? Banyak. Misalnya melihat kepribadian berdasarkan bentuk hidung, tahi lalat ataupun dari makanan kesukaan. Tidak hanya itu, tetapi ada juga akun di media sosial yang mengatakan seperti ini “Kalau kamu diberi boneka, boneka manakah yang akan kamu pilih ? Boneka yang kamu pilih dapat mencerminkan kepribadianmu. Nanti admin share jawabannya di kolom komentar”

Ada juga akun psikologi yang memberikan informasi berupa survei. Survei semacam ini biasanya mengatasnamakan psikologi agar orang-orang tertarik untuk membacanya dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh survei.

Diatas, saya menuliskan hasil penelitian psikologi tentang orang yang suka menonton film humor lebih cerdas ketimbang orang yang tidak suka menonton film humor. Kalau kamu percaya dengan survei tersebut berarti kamu perlu lebih kritis membaca sebuah informasi.

Survei yang saya tulis diatas adalah survei ngawur. Survei yang saya tulis adalah survei tidak berdasar yang asal saya buat dengan menggunakan statistik yang ngawur juga.

Ah, kamu terlalu serius. Itu kan cuma bercanda doang

Mungkin ada yang berpikiran begini Ngapain sih kayak gini kok dibawa serius, have fun ajalah, kita tahu kok mana yang ngawur dan mana yang serius”

Kalau seseorang bisa membedakan mana psikologi yang benar dan mana yang bukan tentu itu adalah hal yang sangat baik. Masalahnya, kalau psikologi abal-abal kemudian diyakini benar oleh seseorang, orang itu bisa mengubah perilakunya.

Misalnya ya, kalau ada pernyataan seperti ini “Psikologi mengatakan 83% orang dengan kuku berbentuk runcing kesetiaannya diragukan”. Kalau informasi semacam ini diterima begitu saja, orang yang punya pasangan dengan bentuk kuku runcing akan berpikiran bahwa pasangannya adalah pasangan yang tidak setia.

Akibatnya ia bisa saja curiga dengan pasangannya. Apabila ini terus menerus dilanjutkan bisa berdampak pada putusnya hubungan.

Inilah psikologi yang sebenarnya

Membaca kepribadian lewat bentuk hidung, gaya berjalan atau apapun itu sebenarnya sudah ditinggalkan sejak lama.

Kalau kamu masuk psikologi, kamu tidak akan diajari cara membaca kepribadian seseorang berdasarkan hal-hal tersebut. Kalau memang mau baca kepribadian berarti kamu harus tahu tentang inventori tes psikologi baik tes non proyeksi ataupun tes proyeksi.

Wade (2008: 71) menjelaskan fungsi tes psikologi ialah untuk mengukur dan mengevaluasi sifat kepribadian, kondisi emosional, bakat, minat, kemampuan dan nilai.

Meskipun diajarkan, tetapi selama kamu masih berstatus sebagai mahasiswa psikologi atau lulusan psikologi maka kamu tidak akan diperbolehkan memakai alat-alat tes itu. Menggunakan tes psikologi  juga tidak sembarangan, ada banyak prosedur untuk dilewati.

Artinya apa ? Artinya untuk membentuk sebuah teori, membuktikan teori, dan untuk mengukur kejiwaan seseorang psikologi memiliki kaidah-kaidah tertentu yang harus dipenuhi.

Itulah sebabnya mengapa ilmu psikologi adalah bidang ilmu ilmiah dan bukan ilmu tanpa dasar.

Contoh imu tanpa dasar itu gimana ?  seperti yang saya jelaskan tadi membaca kepribadian lewat empat gambar dan lain sebagainya. Itu adalah ilmu tanpa dasar. Bagaimana mungkin empat gambar dapat diintepretasikan kedalam sesuatu lain ? Kan tidak bisa.

Dalam psikologi, saat kamu ingin mengeluarkan pernyataan tertentu maka pernyataan ini harus diuji kebenarannya melalui penelitian. Misalnya kalau kamu ingin mengeluarkan pernyataan seperti ini “Orang yang menghafal dengan cara bersuara akan lebih mudah diingat daripada menghafal tanpa bersuara”.

Untuk membuktikan pemikiran itu kamu harus melakukan penelitian kuantatif dengan metode eksperimen. Kamu harus mengikuti prosedur penelitian eksperimen, kamu harus menyiapkan perlakukan tertentu terhadap setiap responden, menentukan variabel yang ingin diteliti, mencari karakteristik responden, kamu harus berurusan dengan statistik dan lain – lain.

Ketika seorang peneliti salah melakukan suatu prosedur penelitian maka penelitian bisa saja menjadi gagal.

Ini membuktikan bahwa sebelum sebuah teori atau pernyataan dikeluarkan maka ada ketentuan khusus supaya teori dapat diterima oleh pihak lain.

Bagaimana cara supaya tidak tertipu ?

Mudah, selalu lakukan pengecekan (verifikasi) terhadap setiap informasi apapun termasuk informasi psikologi. Kalau kamu menemukan sebuah artikel atau gambar yang isinya adalah pernyataan psikologi saya menghimbau untuk melakukan verifikasi menggunakan teknik 5W + 1H.

Segera tanyakan ke diri sendiri, keenam hal berikut :

1. Penelitian itu membahas tentang apa ?

2. Kapan penelitian itu dilakukan ? Apakah penelitian itu masih relevan dengan kondisi saat ini ?

3. Siapa yang melakukan penelitian ?

4. Dimana penelitian itu dilakukan ? Apakah penelitian hanya berlaku didaerah tertentu atau dapat berlaku dihampir semua wilayah ?

5. Mengapa penelitian itu dilakukan ? Apakah ini merupakan perbaikan dari penelitian sebelumnya atau benar-benar penelitian terbaru ?

6. Bagaimana cara penelitian melakukan penelitian ? Bagaimana hasilnya ?

Setelah mengajukan keenam pertanyaan itu ke diri sendiri cobalah cari di perpustakaan atau media online seperti jurnal online atau buku online apakah benar penelitian itu berkata demikian.

Jadi, yuk hindari informasi psikologi abal-abal.

Referensi

Himpsi. 2016. Psikologi dan Teknolologi Informasi. Jakarta : Himpunan Psikologi Indonesia.

Wade, Carole. 2008. Psikologi. Edisi kesembilan. Jilid 1. Alih bahasa : Benedictine Widyasinta. Jakarta : Erlangga

 

 

 

Published in Personal

One Comment

  1. Wah, ternyata penelitian itu harus seperti ini yahh

    Terus menulis ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *