Ini Dia 5 Salah Paham Soal Gangguan Jiwa

Ini Dia 5 Salah Paham Soal Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa itu salah satunya karena faktor turunan. Jadi, jangan mau pacaran dengan orang yang pernah mengalami gangguan kejiwaan yaa. Tapi benarkah seperti itu ? Nggak juga lho. Ini dia 5 salah paham tentang konsep abnormalitas

1. Perilaku Abormal Selalu Kacau

killer-820017_1280

Perilaku abnormal selalu dikaitkan dengan perilaku sadis seperti pembunuhan, pelecehan seksual, bunuh diri yang dramatis, dan perilaku lain yang melanggar norma sosial.

Tapi kenyataannya tidaklah selalu seperti itu.

Perilaku abnormal itu macam-macam. Ada yang benar-benar patologis (mengalami gangguan kejiwaan), tapi ada juga yang hanya tidak bisa menangani konflik secara efektif. Misalnya, mahasiswa pandai tidak mampu meraih prestasi yang lebih baik daripada mahasiswa yang biasa-biasa saja

2. Pandangan Bahwa Gangguan Mental Merupakan Stigma Turunan

dna-312438_1280

Jika lebih satu anggota keluarga memiliki riwayat gangguan mental, anggota keluarga yang lain seringkali mengalami ketakutan kalau-kalau dia akan mengalami gangguan mental juga. Karena itu, dia akan menutup diri dan tidak mau menikah dengan alasan anaknya akan mengalami gangguan yang serupa.

Nah, itu tidak sepenuhnya benar lho.

Gangguan kejiwaan tidak selalu berhubungan dengan keturunan. Gangguan kejiwaan itu sama seperti gangguan kesehatan lainnya, seperti gangguan fisik atau organis. Ada yang memang dipengaruhi keturunan, tapi ada juga yang tidak sama sekali.

Faktor-faktor genetis memang dapat memainkan peran sebagai pembuat kecenderungan (predisposing) bagi perkembangan gangguan skizofrenia dan gangguan mental lainnya.

Tapi, seseorang yang memiliki kecenderungan untuk menderita gangguan karena faktor turunan tidak selalu pasti menderita gangguan jiwa. Dia akan mengalami gangguan jiwa jika ada pemicunya. Jika tidak ada pemicunya ya orang tersebut akan baik-baik saja.

Lalu, bedanya apa dengan orang yang tidak punya turunan ? Bedanya adalah dalam kondisi tekanan yang sama, orang yang memiliki turunan genetis akan memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami gangguan jiwa daripada orang yang tidak memiliki turunan genetis.

Jadi, jangan khawatir.

3. Pandangan Bahwa Genius sebagai  “Saudara Kegilaan”

suit-673697_1280

Orang genius itu memiliki kecenderungan lebih besar jadi gila lho.

Tapi, itu sama sekali tidak benar. Faktanya, studi eksperimental tidak pernah menampilkan bukti apapun terhadap anggapan seperti itu.

Juda pada tahun 1949 pernah meneliti terhadap 294 orang yang tergolong istimewa dibidang seni dan ilmu menyatakan bahwa “tidak ada bukti yang menunjang asumsi bahwa orang yang memiliki intelektualitas yang tinggi berkorelasi positif dan tinggi dengan abnormalitas psikis”.

Memang pernah ada kasus orang genius yang mengalami gangguan kejiwaan seperti pelukis Van Gogh yang skizofren, atau Montesque yang paranoid. Tapi, itu hanya bagian kecil dari gangguan yang sebenarnya ada. Lagipula, gangguan jiwa faktornya banyak sekali. Lingkungan sosial bisa menjadi sumber utama mengapa seseorang bisa mengalami gangguan jiwa. Sedangkan dicotoh kasus itu tidak dijelaskan detail bagaimana lingkungan sosialnya dan bagaimana ia berhubungan dengan orang lain atau faktor-faktor lain yang menyebabkan dia mengalami gangguan jiwa.

Jadi, anggapan kalau jenius itu memiliki kecenderungan besar untuk berubah jadi gangguan jiwa itu tidak benar ya.

4. Pasien Gangguan Mental itu Berbahaya dan Tidak Dapat Disembuhkan

medications-257344_1280

Pandangan yang sering disalah-artikan adalah bahwa penyakit mental itu tidak dapat disembuhkan. Memang benar, ada beberapa penyakit mental yang sulit untuk disembuhkan total.

Tapi, tidak semua gangguan jiwa itu tidak dapat disembuhkan. Kalau gangguan jiwanya masih ringan, artinya dia baru mengalami gangguan dalam hitungan bulan tentu masih bisa disembuhkan. Kalau sudah tahunan, itu yang sulit disembuhkan secara total.

Tapi tunggu dulu, maksud sembuh dan sembuh total itu bagaimana ya ?

Dikutip dari Tabloid Nova, dr. Danardi Sosrosumihardjo, Sp.KJ (K) menjelaskan bahwa kriteria sembuh itu ada tiga, yaitu :

1. Sembuh total 

Sembuh total artinya 100% kembali pulih, kembali beraktivitas, dan tanpa mengonsumsi obat

2. Sembuh klinis

Sembuh klinis artinya kembali pulih mendekati 100 persen, dan kembali beraktivitas. Namun masih perlu minum obat dengan dosis yang dapat dikelola.

3. Sembuh Sosial: 

Artinya, gejala sudah mereda, masih terdapat gejala sisa, namun bisa ditoleransi. Dan masih tetap minum obat dengan dosis minimal atau sedang. Tetapi yang terpenting, dapat berfungsi kembali secara sosial.

Tapi, walaupun orang dengan gangguan jiwa sulit disembuhkan bukan berarti dia benar-benar tidak mampu untuk beraktivitas. Seberat apapun gangguan jiwa yang dialami oleh seseorang, tetapi kalau orang tersebut mau untuk melakukan terapi dan berobat secara teratur dia akan mampu untuk kembali beraktivitas walaupun tidak sepenuhnya sembuh secara total.

5. Keyakinan bahwa Penderita Gangguan Mental Tidak Terhormat

hand-1549133_1280

Pergi ke dokter gigi, dokter jantung, dokter umum atau dokter lainnya bukanlah suatu masalah. Tapi kalau pergi ke psikolog atau ke psikiater akan jadi masalah.

Berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog dianggap sebagai suatu aib yang memalukan. Anggapan ini muncul akibat paham yang menyatakan bahwa gangguan jiwa terjadi karena perilaku amoralitas atau perilaku yang tidak bermoral. 

Tapi, tentu tidak seperti itu. Gangguan mental tidak ada hubungannya dengan amoralitas. Gangguan jiwa itu faktornya banyak, depresi yang tidak tertangani juga akan menyebabkan gangguan jiwa.

Pertanyaannya, bagaimana kok bisa sampai gangguan jiwa ? Bisa karena orang yang membutuhkan bantuan merasa malu kalau dirinya butuh bantuan. Akhirnya, dibiarkan terus dan berubah menjadi gangguan jiwa.

Sebenarnya sederhana, carilah bantuan jika memang itu diperlukan. Kalau memang butuh bantuan ke psikolog ya pergilah ke psikolog. Itu akan membantu mengurangi stres dan mencegah terjadinya gangguan jiwa.

Referensi

Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : Refika Aditama.

Tabloid Nova – Sakit Jiwa Bersifat Sementara