Menjadi Pribadi Asertif

Menjadi Pribadi Asertif

Menjadi pribadi asertif – Suatu kali Jono diajak oleh Soni untuk beli bakso. Datanglah mereka ke tempat makan bakso. Ditengah-tengah makan, Soni berkata kepada Jono : “Jon, baksonya enak yaa” dijawab oleh Soni “Iya, enak kok hehehehe”. Padahal sebenarnya Jono merasa bakso tersebut terlalu asin. Pernahkah Anda mengalami kejadian tersebut ? Apa maksud menjadi pribadi asertif ? Simak ulasan berikut.

Definisi Pribadi Asertif

Wikipedia menerjemahkan asertif sebagai “the quality of being self-assured and confident without being aggressive” yang berarti asertif adalah kualitas diri yang yakin dan percaya diri tanpa menjadi agresif. Menurut Rini (dalam jurnal Henri Rosita) perilaku asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Dari dua definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengatakan apa yang sedang dirasakan tanpa merasa takut tetapi juga menghargai hak pribadi dan orang lain.

Seperti contoh diawal, Joni tidak mampu untuk mengatakan bahwa baksonya terlalu asin. Joni melakukan itu mungkin karena sungkan, takut mengecewakan, agar enak didengar dan lain sebagainya. Tetapi kondisi seperti ini sebenarnya sangat tidak menguntungkan. Jika Joni tidak mampu menjadi pribadi asertif, lain waktu Joni akan diajak lagi makan bakso ditempat tersebut sehingga Joni tidak dapat menikmati bakso yang dimakan.

Menjadi asertif bukan berarti egois atau agresif. Tetapi asertif berarti individu mampu mengucapkan apa yang dirasakan tetapi dengan komunikasi yang baik pula.

Mengapa Menjadi Asertif itu Penting ?

Salah satu tujuan menjadi asetif adalah agar tidak ada pihak yang dirugikan. Contoh lain, Claudia mengajak Yani untuk menemaninya jalan-jalan mencari baju. Karena sering pergi, Yani sudah tahu bahwa jika keluar bersama Claudia akan menghabiskan waktu berjam-jam. Tetapi kondisinya adalah Yani harus belajar karena besok akan menghadapi ujian tertulis Geografi. Karena merasa sungkan untuk menolak, akhirnya Yani menemani Claudia mencari baju. Dan benar seperti biasanya, Claudia dan Yani menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari baju. Akibatnya adalah Yani tidak dapat belajar dengan maksimal karena waktu terbuang habis hanya karena pergi jalan-jalan.

Dari contoh tersebut diketahui bahwa kerugian yang dialami oleh Yani akibat Yani tidak memiliki perilaku asertif. Apabila Yani asertif, maka dia tidak perlu mengalami hal yang seharusnya tidak dia alami.

Tips Menjadi Pribadi Asertif

Dilansir dari psychcentral.com ada 5 tips yang bisa dilakukan untuk menjadi asertif, yaitu :

  1. Mulai dari hal kecil 
    Asertif bisa diraih dengan cara melakukan hal-hal sederhana, seperti memilih tempat duduk. Setelahnya, Anda dapat memulai lagi dengan hal-hal yang lebih kompleks.
  2. Belajar untuk berkata tidak
    Belajarlah untuk menolak sesuatu yang seharusnya tidak Anda terima. Hal ini akan membuat Anda merasa lebih baik daripada mengatakan “iya” dengan terpaksa
  3. Kurangi rasa bersalah
    Ketika Anda menjadi asertif terkadang perasaan bersalah muncul. Ketika Anda merasa seperti ini, segera singkirkan perasan bersalah tersebut.
  4. Ekspresikan kebutuhan dan perasaan
    Sampaikan apa yang menjadi kebutuhan dan perasaan Anda. Dengan begitu lawan bicara atau lingkungan Anda dapat memahami situasi yang sedang Anda alami.
  5. Baca sumber lain tentang sikap asertif
    Baca artikel, buku, atau sumber lain tentang sikap asertif. Ini akan membantu Anda lebih memahami tentang asertivitas.

Referensi

Be Assertif – Bagaimana Menjadi Asertif

Asertivitas – Tentang Asertivitas

Asertivitas – Definisi Asertif

5 Tips to Increase Your Assertiveness – 5 Tips untuk Meningkatkan Asertivitas

Stress Management – Menjadi Asertif : Menurunkan Stres, Komunikasi Lebih Baik

Henri Rosita (Tth). Hubungan antara Perilaku Asertif dengan Kepercayaan Diri pada Mahasiswa (Online). Hal 1.
Tersedia : http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2007/Artikel_10502099.pdf (19 Januari 2016)