Pengertian Adversity Quotient

Pengertian Adversity Quotient

Adversity Quotient – In short : Hidup ini penuh dengan tantangan. Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan masalah dan ditantang untuk menyelesaikainnya. Ada yang bisa melewati, ada yang tidak. Salah satu faktor penentu itu adalah adversity quotient. Jadi, apa itu adversity quoetient ? Simak pembahasannya.

Setiap kali kita menerima sebuah kesempatan akan ada dua respon yang muncul. Pertama menerima, kedua menolak. Setelah menerima akan ada beberapa respon lain yang mengikuti. Tetap maju atau putus asa.

Nah, masalahnya ada banyak orang yang putus asa terlalu dini. Kesempatan sudah diambil tetapi karena merasa tidak mampu ia memutuskan untuk berhenti. Ini masih jauh lebih baik daripada putus asa sebelum mencoba. Tetapi, kedua hal ini juga tidak baik kan ?

Lalu, apakah kita bisa mengubahnya ? apakah kita bisa menggunakan sebuah kekuatan khusus untuk menyelesaikan tantangan itu ? Menjawab pertanyaan ini, Dr. Stoltz membantu kita untuk memahami dan memegang kendali atas apa yang terjadi dikehidupan kita. Dr. Stotlz adalah seorang penulis buku tentang soal Adversity Quotient. Uraian Dr. Stoltz akan membantu kita untuk memperbaiki ambisi dan motivasi pribadi sehingga manusia dapat menemukan suatu kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Memahami Adversity Quotient

Dr. Stotlz mengatakan adversity quotient terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu :

1. AQ adalah suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan

2. AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respon Anda terhadap kesulitan

3. AQ adalah serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respons Anda terhadap kesulitan

Uraian tersebut sepertinya lumayan sulit untuk dipahami, tapi sederhananya AQ membuat kita jauh lebih mudah memahami kesuksesan dengan cara mengecek respon kita terhadap berbagai kesulitan. Kalau ternyata respon kita salah, AQ akan memperbaiki respon itu.

Jadi, adversity quotient itu apa ? Gampang, adversity quotient itu adalah kecerdasan menghadapi sebuah kesulitan.

Itu artinya, semakin  cerdas seseorang dalam menghadapi kesulitan maka adversity quotient orang tersebut juga semakin tinggi. Kalau adversity quotient tinggi berarti kesuksesan gampang diraih. Nah, cara untuk meningkatkan adversity quotient gimana ? Nanti akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Tapi tunggu dulu. Dari awal pembicaraan, beberapa kali saya mengatakan bahwa adversity quotient dapat meningkatkan kesuksesan. Nah, kita harus menyamakan persepsi dulu soal kesuksesan. Kesuksesan itu bukan hanya soal jadi kaya, punya mobil mewah, punya rumah mewah dan sebagaianya. Iya, punya rumah mewah dan sebagainya adalah sebuah kesuksesan. Tetapi maksud kesuksesan tidak hanya itu. Kalau kita mampu untuk menjalin relasi, mampu mengerjakan tugas kantor dengan baik, mampu belajar dengan baik itulah kesuksesan.

Apa IQ Tidak Cukup Untuk Membangun Kesuksesan ?

Mungkin Anda akan bertanya, orang yang cerdas atau IQnya tinggi kan lebih gampang untuk meraih kesuksesan. Apakah IQ saja tidak cukup untuk membangun kesuksesan ?

Ternyata tidak.

IQ tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Dulunya IQ dianggap sebagai sesuatu yang ‘wah’. Kalau IQnya tinggi, berarti orang tersebut gampang sukses dan berlaku sebaliknya. Tapi ini anggapan ini sudah usang. Kita akan menemui orang-orang dengan IQ tinggi tetapi kontribusinya masih kalah dibandingkan dengan orang-orang yang ber-IQ sedang.

Contohnya adalah kasus Ted Kaczynski.

075172500_1427977413-unabomber                                                  Image Credit : Liputan6

Ted Kaczynski pada 1978 meledakkan bom buatan sendiri di Chicago University. 18 tahun kemudian, Kaczynski meneror Amerika Serikat dengan mengirimkan paket berisi bom kepada beberapa orang secara acak. Aksinya itu mengakibatkan 3 warga negara AS tewas, 24 lainnya cedera. Untuk berita lebih lengkap, Anda bisa mengunjungi link ini.

Kaczynski merupakan orang dengan IQ tinggi. Sejak remaja dia sudah dikenal sebagai orang yang cerdas. Karena kecerdasannya, Kaczynski bisa langsung masuk sekolah menengah atas tanpa melewati sekolah menengah pertama. Kaczynski masuk Hardvard usia 16 tahun, lulus usia 20 tahun.

Setelah selesai dengan pendidikan di magister dan doktor di University of Michigan, Kacznyski mengajar di departemen matemika paling bergengsi di dunia, yaitu yaitu di University of California di Berkeley. Setelah dua tahun, Kacznynski meninggalkan jabatan dosen.

Masalahnya ini.

Kaczynski terbiasa dididik hanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir saja. Kemampuan bersosialiasi atau kecerdasan emosi tidak pernah dipelajari. Selama mengikuti pendidikan, Kacznsyki juga tidak pernah terlihat bergaul dengan teman-temannya.

Akhirnya, kecerdasan yang dia miliki hanya digunakan untuk menaruh bom dan melakukan teror.

Jadi, jelas IQ saja tidak mampu membuat orang menjadi sukses.

Kemudian muncullah teori baru tentang Emotional Intelligence (EQ) atau kecerdasan emosi yang digagas oleh Daniel Goleman. Goleman membuktikan bahwa selain IQ, manusia juga memiliki EQ. EQ yang kita miliki merupakan cerminan kemampuan untuk berempati, sadar diri dan bergaul dengan orang lain. Lebih lanjut, Goleman mengatakan bahwa EQ lebih penting daripada IQ.

Melihat ini, Stoltz berpendapat karena kecerdasan emosi tidak memiliki tolak ukur yang sah maka kecerdasan emosi tetap sulit dipahami. Stoltz tidak berusaha menyalahkan teori IQ atau EQ, tetapi Stoltz mengatakan bahwa baik IQ atau EQ masing-masing memiliki peran khusus.

Maka muncullah pertanyaan “Mengapa ada orang yang mampu bertahan dalam sebuah kesulitan, sedangkan dalam kondisi yang sama, lainnya sudah menyerah ?” Disinilah peran AQ berlangsung.

Jadi, beginilah orang dapat meraih kesuksesan (lihat gambar dibawah ini)

Segitiga AQ-EQ-IQ

              Image Credit : Suhartono

Apakah AQ Bisa Ditingkatkan ?

Bisa.

AQ itu yang mencetak adalah diri kita sendiri. AQ merupakan skill yang bisa dipelajari.

Untuk meningkatkan IQ, kita perlu tahu tentang tiga tipe pendaki gunung kesuksesan.

1. Tipe Quitters

Quit berarti berhenti. Orang dengan tipe ini akan memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti. Mereka tidak mau mendaki gunung kesuksesan. Mereka juga menolak berbagai kesempatan.

2. Tipe Campers

Tipe campers atau berkemah adalah mereka yang tidak mau menyelesaikan tujuan. Mereka memang melakukan pendakian, mereka mengambil sebuah kesempatan.

Tetapi tidak pernah diselesaikan.

Ketika mereka bosan, merasa tidak mampu untuk menuntaskan tujuan mereka akan mencari tempat datar yang rata dan nyaman, berkemah disitu kemudian berhenti.

Perjalanan tipe campers sangat bervariasi. Perjalanan mereka ada yang mudah, tetapi ada juga yang sudah mengorbankan banyak hal. Tetapi mereka memutuskan untuk berhenti. Beberapa mereka menganggap bahwa perkemahan mereka sudah dianggap sebagai kesuksesan.

3. Tipe Climbers

Tipe climbers atau pendaki adalah mereka yang seumur hidup selalu berjuang untuk mendapatkan apa yang terbaik. Climbers selalu berpikir tentang segala kemungkinan. Tipe climbers tidak akan membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental, atau hambatan lainnya menghalangi pendakiannya.

Contohnya banyak. Salah satunya ialah Raden Adjeng Kartini. Apapun hambatannya, apapun resikonya beliau tetap memperjuangkan emansipasi wanita. Tidak ada apapun yang mampu menghalanginya untuk meraih apa yang dimimpikannya. Akhirnya, RA. Kartini berhasil.

Jadi, kalau kita mau meningkatkan skill AQ maka perhatikan baik-baik dimanakah posisi kita saat ini. Apakah kita ada di tipe quitters, campers, atau climbers ? Dimanapun posisi kita, berusahalah untuk mengembangkannya.

Mengenal LEAD

LEAD adalah sebuah metode yang diciptakan oleh Stoltz guna memudahkan kita dalam menghadapi kesulitan.

Listen

Listen berarti mendengarkan respon yang Anda keluarkan ketika sedang menghadapi kesulitan. Tanyakan pada diri sendiri :

  • Apakah respon AQ itu tinggi atau rendah ?
  • Kapan respon bisa disebut rendah atau disebut tinggi ?

Explore

Explore berarti Anda perlu untuk mencari tahu penyebab kesulitan dan pengakuan atas akibatnya. Tanyakan pada diri sendiri :

  • Apa kemungkinan penyebab dari kesulitan ini ?
  • Ingat penyebabnya, tanyakan lagi seberapa banyak yang merupakan kesalahan saya ?
  • Apakah saya dapat mengerjakannya lebih baik lagi ?

Analyze

Analyze berarti Anda menganalisa bukti-buktinya. Tanyakan pada diri sendiri :

  • Apa bukti bahwa saya tidak memiliki kendali ?
  • Apa bukti bahwa bahwa kesulitan harus berlansung lebih lama daripada yang seharusnya ?

Do

Do berati lakukan sesuatu. Tanyakan pada diri sendiri :

  • Tambahan informasi apa yang saya perlukan ?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan kendali atas situasi ini ?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk membatasi jangkauan kesulitan ini ?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk membatasi berapa lama berlansungnya kesulitan ini dalam keadaan sekarang ?

Kesimpulan

AQ itu sama seperti daya juang. Daya juang Anda akan berpengaruh terhadap kesuksesan Anda.

Semakin baik Anda berjuang, maka kesuksesan semakin dekat. Jadi, bagaimana Anda berjuang ? Anda mau berheti atau lanjut ? Semua ada ditangan Anda.

Referensi

http://global.liputan6.com/read/2206857/3-4-1996-unabomber-kisah-si-jenius-yang-sesat

http://1.bp.blogspot.com/-SJrpVt0mRV4/TvHCrCZfLQI/AAAAAAAAAB4/WD4VIQng1co/s1600/Segitiga+AQ-EQ-IQ.png

Adversity Quotient (Image) – Suhartono

Stoltz, Paul G. 2005. Adversity Quotient : Turning Obstacles Into Opportunities. Diterjemahkan oleh : T. Hermaya. Jakarta : Grasindo