Pengukuran Psikologi

In Short : Apakah psikologi adalah ilmu pasti ? Bisakah kita mengukur psikologis manusia layaknya mengukur benda fisik ? 

Kalau kita mendengar istilah psikologi seringkali orang akan mengaitkan dengan ilmu ramal atau ilmu raba-raba yang penuh kerancuan. Mungkin ada yang berasumsi bahwa ilmu psikologi tidak pasti. Nyatanya, pandangan itu tidak benar.

Psikologi adalah sebuah displin ilmu. Itu artinya psikologi harus memiliki metode yang jelas dan terukur dalam menjelaskan fenoma psikologis. Dengan kata lain, ilmu psikologi harus mampu mengukur jiwa manusia. Masalahnya, apakah jiwa manusia yang tidak kelihatan itu bisa diukur ?

Ternyata bisa.

Bagaimana caranya ? Kita bisa menggunakan ilmu psikometri atau pengukuran psikologi.

Apa Itu Pengukuran ?

Sebelum membahas bagaimana ilmu psikologi mengukur jiwa manusia yang tidak kelihatan, lebih dahulu kita akan membahas tentang definisi pengukuran.

Azwar (2016) mendefinisikan ilmu pengukuran sebagai cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan untuk membangun dasar-dasar teoretik dalam pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan tes yang dapat berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel.

Apakah pengukuran itu penting ? Ya, pengukuran itu penting bahkan sangat penting. Tanpa pengukuran maka disiplin ilmu hanya menduga-duga masalah tanpa bisa mencari tahu masalah yang sebenarnya.

Misalnya saya memberikan kepada Anda 3 bola berbeda, 1 bola kecil, 1 bola sedang dan 1 bola besar. Sekarang, tanpa menyentuh ketiga bola itu saya akan meminta Anda untuk mengurutkan bola dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Bisakah ? Ya, tentu saja tidak bisa. Mengapa ? Karena kita tidak tahu pasti mana bola yang ringan, sedang dan paling berat.

Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mengurutkan berat bola adalah dengan mengukurnya. Setelah diukur kita baru mengetahui bola mana yang paling berat dan paling ringan.

Pengukuran bisa juga disebut sebagai pemberian angka atau kuantifikasi terhadap atribut atau variabel disebuah kontinum. Sedangkan, atribut adalah objek pengukuran yang akan dikuantifikasikan atau diberi angka.

Misalnya saya memberikan pernyataan begini “Mobil Jazz itu berjalan sangat lambat, sedangkan Mobil Avanza itu berjalan sangat cepat”. Kalau pernyataannya hanya sebatas cepat atau lambat, kita akan bingung diangka berapa mobil dikatakan cepat, dan diangka berapa mobil dikatakan lambat.

Untuk menyelesaikan masalah seperti itu, kita perlu memberikan sebuah angka tertentu sehingga kita bisa menentukan kecepatan mobil.

Dalam hal ini berarti atributnya adalah kecepatan (dianggap juga sebagai objek pengukuran). Kecepatan itu kemudian akan kita beri angka. Proses pemberian angka itulah yang disebut sebagai pengukuran.

Apa kaitannya dengan psikometri ?

Pengukuran psikologi disebut juga sebagai psikometri. Psiko berarti jiwa, sedangkan metric berarti pengukuran. Azwar (2016) mendefinisikan psikometri sebagai ilmu tata cara mengevaluasi atribut (karakteristik) tes psikologis yang memusatkan perhatiannya pada jenis data skor yang diperoleh oleh tes, reliabilitas data hasil tes dan masalah validitas data yang dihasilkan oleh tes.

Di contoh sebelumnya, kita berusaha mengkuantifikasikan atribut fisik tapi kalau kita bicara pengukuran psikologi maka yang dikuantifikasikan adalah atribut psikologis.

Jadi, melalui psikometri kita berusaha untuk mengukur atribut psikologis seperti kecemasan, intelegensi, potensi akademik, bakat verbal dan lain sebagainya.

Tapi proses pengukuran atribut psikologis ini tidak bisa dilakukan secara langsung seperti halnya pengukuran atribut fisik. Kalau atribut fisik, kita bisa secara langsung melakukan pengukuran. Misalnya, kalau ingin mengukur kecepatan kita bisa pakai speedometer, kalau ingin mengukur berat badan kita bisa memakai alat timbangan, dan lain sebagainya.

Sehingga, untuk melakukan pengukuran atribut psikologis peneliti harus terlebih dahulu mengidentifikasi berbagai bentuk perilaku yang mengindikasikan adanya atribut tersebut dalam diri seseorang. Dari situ, peneliti akan menentukan indikator perilaku.

Jika indikator perilaku dapat dirumuskan dengan baik, maka indikator itu dapat dijadikan acuan dalam pengembangan instrumen sehingga keberadaan atribut psiklogis dapat dikuantifikasikan dengan menggunakan skala atau tes psikologi.

Kalau peneliti ingin mengetahui kecemasan individu, berarti indikator perilaku cemas harus dijelaskan terlebih dahulu baru setelah itu dikuantifikasikan. Ambil contoh skala kecemasan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARSH). Untuk mengidentifikasi kecemasan, HARS menggunakan 14 indikator perilaku yaitu : perasaan cemas firasat buruk, ketegangan : merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah tersinggung dan lesu, ketakutan : takut terhadap gelap, orang asing, dan lain sebagainya.

Cara pengukurannya adalah memberi skor pada setiap indikator perilaku misalnya 0 berarti tidak ada gelaja, 1 berarti ada gejala, 2 berarti sedang atau separuh gejala, dan lain sebagainya.

Karakteristik Pengukuran Psikologi

Secara operasional, ada tiga karakteristik pengukuran yaitu :

A. Pembandingan antara atribut yang diukur dengan alat ukurnya

Perlu diperhatikan bahwa kita tidak bisa mengukur suatu atribut dengan atributnya itu sendiri tapi harus dengan alat ukurnya. Misalnya, kalau kita ingin mengukur berat badan tentu saja kita harus menggunakan timbangan berat badan sebagai alat ukurnya.

Tapi kita tidak bisa mengukur berat badan dengan berat badan itu sendiri. Lagi, kalau kita ingin mengukur luas meja kita tidak bisa mengukurnya dengan meja itu sendiri tapi harus dengan dimensi meja seperti panjang dan lebarnya.

Pengertian itu berarti tiga hal : 1. benda atau manusia yang dimensinya diukur merupakan subjek pengukuran, bukan objek pengukuran, 2. Objek pengukuran adalah dimensi yang diukur, 3. alat ukur hanya dapat diketahui apabila atribut yang hendak diukur telah diketahui lebih dahulu.

B. Hasilnya bersifat kuantitatif

Hasil pengukuran pasti berbentuk angka (kuantitatif) sehingga tidak mungkin hasil pengukuran berupa kalimat. Pengukuran akan dinyatakan selesai apabila hasilnya telah diwujudkan dalam bentuk angka beserta satuannya (pengukuran fisik). Misalnya, kalau panjang berarti hasilnya adalah 30 cm atau 5 m.

Hasil pengukuran psikologispun sama yaitu berbentuk angka. Misalnya, angka pengukuran kecerdasan adalah 120.

C. Kesimpulannya dinyatakan secara deskriptif

Maksudnya adalah kesimpulan hanya sebatas memberikan angka atau bilangan yang tidak disertai intepretasi. Kalau kita mengukur kecepatan kendaraan bermotor, kita hanya bisa menuliskan “kendaraan berkecepatan 70 km / jam” tanpa diberi intepretasi apakah kendaraan itu melaju dengan cepat, sedang atau lambat.

Evaluasi

Setelah melakukan pengukuran, hasil pengukuran akan dilakukan evaluasi. Evaluasi merupakan intepretasi dari hasil pengukuran.

Jika kita mengukur luas meja 50 cm x 100 cm = 500 cm2 apakah meja itu sempit, sedang, atau luas ? Kalau misalnya dalam suatu tes seorang anak mendapat nilai 50 apakah itu berarti nilai tersebut buruk, sedang atau baik ? Kita mungkin berasumsi nilai 50 itu buruk, tapi kalau misalnya dalam suatu kelas yang berisi 25 orang, seorang anak mendapat nilai 50 sedangkan 23 orang lainnya rata-rata mendapat 45 apakah itu berarti anak tersebut tidak mampu menerima materi ?

Tentu saja tidak.

Sehingga jelas bahwa pemberian suatu makna atau intepretasi terhadap angka hasil pengukuran hanya dapat bersifat evaluatif apabila memiliki standar atau norma sebagai acuan yang berupa kriteria. Norma berarti harga rata-rata bagi suatu kelompok subjek.

Kita ambil contoh skala HARSH. Setelah melakukan skoring pada masing-masing item, maka semua item akan ditotal dan dimasukkan kedalam norma sehingga akan diketahui apakah kecemasan individu itu rendah, sedang atau tinggi.

Referensi

Azwar. 2016. Dasar-dasar Psikometrika. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Skala Harsh – Scribd

1 thought on “Pengukuran Psikologi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *